Hitam – Putih DEPOK,

” GEDORAN DEPOK, MARGONDA  VS BELANDA DEPOK 1945″ 

Koranganjar.com, #MelawanLupa:

Peristiwa Gedoran Depok  adalah sebuah peristiwa huru-hara bersejarah pra-kemerdekaan Indonesia yang terjadi di Kota Depok , Jawa Barat . Pada tanggal 28 Juni 1714, Kota Depok dikuasai oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan berbentuk republik gemeente yaitu Gemeente Bestuur Depok , terpisah dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia . Hal itu membuat para pejuang kemerdekaan dan Tentara Keamanan Rakyat ingin merebut Depok dari tangan NICA , yang pada saat itu jarak Depok hanya beberapa kilometer saja dari DKI Jakarta .

Peta Kota Depok

Peristiwa terjadinya Gedoran depok tak lepas dari sejarah awal berdirinya depok oleh Cornelis Chastelein (CC)  saudagar VOC generasi awal yang memerdekakan orang depok. Sejak itulah CC  menjadi tuan tanah, yang kemudian menjadikan Depok memiliki pemerintahan sendiri, lepas dari pengaruh dan campur tangan dari luar.  CC  mewariskan seluruh tanahnya kepada 12 marga budaknya yang berasal dari berbagai suku di Indonesia dan memerdekakan mereka dalam wasiat yang dibuatnya sebelum meninggal. Meski bermuka pribumi dan berkulit coklat, 12 marga dan keturunan mereka bergaya hidup seperti orang Eropa , buah didikan sang tuan. Mereka inilah yang disebut sebagai ‘Belanda Depok . Sehari-hari mereka menggunakan bahasa Belanda .

Sejarah juga menyebut, Depok sudah lebih dulu merdeka sejak 28 Juni 1714 . Mereka punya tatanan pemerintahan sendiri yakni Gemeente Bestuur Depok yang bercorak republik. Pimpinannya seorang presiden yang dipilih tiga tahun sekali melalui pemilihan umum . Pemerintah Belanda di Batavia menyetujui pemerintahan Chastelein ini dan menjadikannya sebagai kepala negara Depok yang pertama. Tak ayal jika mereka enggan bergabung dengan republik baru bernama Indonesia . Mengingat mereka sudah merdeka dan sudah punya presiden sendiri sebelum proklamasi 17 Agustus 1945  

Karena Depok tidak mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia , akibatnya wilayah yang hanya berjarak beberapa kilometer dari Jakarta diserbu para pejuang kemerdekaan. Depok dikepung dari seluruh penjuru mata angin. Depok dijarah takluk di bawah todongan senjata, orang Depok dipaksa mengibarkan bendera merah putih dan teriak merdeka . Siapapun yang membangkang kena hantam, tak sedikit korban berjatuhan. Huru-hara yang meletus pada tanggal 11 Oktober 1945 dikenal dengan Peristiwa ‘Gedoran Depok’ untuk merebut Depok dari penjajah oleh para pejuang kemerdekaan. 

Namun tak berlangsung lama, Nederlandsch Indische Civiele Administratie (NICA) kembali menguasai Depok. Pasukan NICA yang datang membonceng sekutu menyerbu Depok untuk memerdekakan orang Depok yang ditawan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) . Pejuang berhasil dipukul mundur. Tawanan wanita dan anak-anak Depok dibebaskan, dibawa ke kampung pengungsian di Kedunghalang, Bogor . 

Semenjak itu, kantor Gemeente Bestuur Depok yang tadinya dijadikan markas TKR berubah menjadi markas NICA . Memasuki bulan November , para pejuang yang tercerai-berai kembali mencapai koordinasi dan menyusun kekuatan. Mereka berencana merebut kembali Depok dari tangan NICA . Para pejuang bersepakat menduduki Depok tanggal 16 November 1945 . Sandi perangnya saat itu serangan kilat. Pada saat itulah Margonda – pimpinan tentara Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) berencana kembali merebut Depok bersama para pejuang lainnya. Hingga dia gugur bersama ratusan prajuritnya disekitar sungai Pancoran mas Kalibata.  

Peristiwa Gedoran Depok ini sering disebut sebagai revolusi sosial di pinggiran Jakarta. Melalui peristiwa inilah lahir tokoh-tokoh, seperti Margonda, Tole Iskandar , dan Mochtar. Nama pelopor itu kini diabadikan sebagai nama jalan utama di Kota Depok.

Banyak versi tentang ‘Gedoran Depok, satu sama lain saling membenarkan, satu sama lain saling menyalahkan. Apapun itu menjadi bagian dari sejarah Bangsa dan Negara Besar ini. Kita sebagai generasi penerus kiranya dapat memilah semua itu dengan bijak. Innalillahiwainaillaihi’rajiun kepada para pahlawan , semoga mereka dalam surga-Nya Allah SWT – Tuhan YME, Aamiin yra.

TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Margonda (01 Maret 1918 – 16 November 1945)meninggal di usia 27 tahun dalam pertempuran ketika pasukannya menyerang tentara Inggris di Kali Bata pada 16 November 1945 adalah salah seorang pejuang kemerdekaan. Namanya diabadikan sebagai nama jalan utama di Kota Depok yaitu Jalan Margonda Raya

Letnan Dua TNI (AnumertaRaden Tole Iskandar (1922–1947) adalah pejuang Kemerdekaan Indonesia yang gugur dalam pertempuran di SukabumiJawa Barat. Atas jasanya tersebut, namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Depok.

(Red-01/Foto.ist)

Lainnya,

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini