Guntur Sukarnoputra 1944 – 2023 (31),

” DASI KUNING DUKUNG GOLKAR ? “

KoranGanjar.com, OPIni :

Pada tanggal 18 Desember 2023, penulis makan malam sambil menonton berita-berita di Kompas TV. Ternyata ada berita yang menarik penulis yaitu munculnya Presiden Jokowi yang tampil dengan menggunakan dasi berwarna kuning, tidak seperti biasanya menggunakan dasi berwarna merah.

Biasa di kalangan pemirsa timbul berbagai macam tafsir antara lain Jokowi rupanya sudah tidak lagi mendukung PDI-Perjuangan yang ciri khasnya warna merah. Banyak yang menafsirkan bahwa Jokowi memberi “kode” bahwa yang bersangkutan mendukung Partai Golkar karena warna kuning adalah warna khas dari partai Golkar.

Presiden Jokowi dan Dasi Kuning, Sebuah Kode Politik atau Sekadar Pilihan Gaya?

Cerita Sang Saka Merah Putih, Bung Karno dan Air Mata Fatmawati

Beberapa sahabat penulis juga menelpon dan bertanya apa benar Jokowi sudah banting setir mendukung partai Golkar?

Penulis hanya menjawab “ngapain sih sampeyan ribut-ribut soal dasi!?” Menjawab banyaknya pertanyaan dari berbagai kalangan Menteri Sekretaris Negara Pratikno terpaksa menjelaskan kepada khalayak bahwa Presiden menggunakan dasi warna kuning karena kesulitan memilih dasi yang hendak digunakannya.

Jujur saja menurut penulis dari sudut estetika mengkombinasikan busana sipil lengkap berwarna biru tua kehitam-hitaman dengan dasi warna kuning kurang “pas” karena kehilangan titik pandang yang menonjol pada busana.

Kuning Warna Ke-Presidenan

Pada era Presiden Sukarno di tahun-tahun 1950 sampai dengan tahun 1967 lambang-lambang Ke-Presidenan selalu berwarna kuning. Oleh sebab itu mengapa harus ditafsirkan Presiden Jokowi mengenakan dasi berwarna kuning berarti mendukung atau beralih pilihan pada capres dari Partai Golkar CS.

Siapa tahu maksud Jokowi berdasi warna kuning untuk menyatakan yang bersangkutan adalah Presiden dari Republik ini serta penguasa tertinggi di negara ini. Untuk diketahui oleh terutama generasi milenial, generasi muda bahwa kemanapun Presiden Sukarno berada selalu dikibarkan bendera Ke-Presidenan berwarna kuning emas dengan lambang bintang dikelilingi padi dan kapas.

Bila Presiden mengendarai mobil maka di tiang depan mobil berkibar bendera kuning emas. Di dalam maupun di luar negeri bila pesawat yang ditumpangi oleh Presiden Sukarno mendarat dan melaju menuju lokasi parkir dekat jendela Kokpit Pilot mengibarkan bendera kuning Ke-Presidenan.

Juga di Istana di manapun Presiden menginap bendera kuning emas selalu berkibar untuk menandakan bahwa Presiden berada di gedung tersebut. Ketika Daniel Alexander Maukar dengan pesawat MIG-17 yang memberondong Istana Merdeka untuk membunuh Sukarno maka salah satu yang menjadi pertanda di mana Presiden berada adalah bendera kuning emas yang berkibar megah di wuwungan atap Istana Merdeka.

Disamping informasi-informasi yang Maukar peroleh dari pihak CIA Amerika Serikat yang mendukung gerakan separatisme Permesta. Jadi baiklah sebaiknya kita tafsirkan saja dengan menggunakan dasi warna kuning Jokowi ingin memberi “kode” bahwa Ia adalah Presiden NKRI penguasa tertinggi di organisasi negara dan bukan hanya sekedar “petugas partai” melainkan lebih dari itu.

Satu lagi ciri kuning di era Presiden Sukarno adalah penutup kotak Bendera Pusaka adalah selembar kain berwarna kuning yang dibuat juga oleh Ibu Fatmawati di era Ibu Kota hijrah ke Yogyakarta tahun 1946.

Warna Kuning Bukan Monopolinya Partai Golkar.

Dari uraian penulis di atas mengertilah kita bahwa warna kuning ternyata bukan monopolinya Partai Golkar yang baru lahir jauh sesudah bendera kuning Ke-Presidenan dibuat dan digunakan oleh Presiden Sukarno.

Mungkin saja para pendiri-pendiri Partai Golkar di kala itu terinspirasi warna kuning dari bendera Ke-Presidenan.

Penulis terkadang heran mengapa warna kadang-kadang diidentikkan dengan suatu partai, misalnya kuning pertanda Golkar, merah pertanda PDI-Perjuangan, hijau miliknya partai-partai bernuansa Islam, hitam miliknya PNI front Marhaenis

Bila demikian bagaimana dengan partai-partai dan organisasi-organisasi yang lainnya? Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bila penulis lihat yang terpampang di jalan-jalan benderanya berwarna pink. Ada juga yang penulis tidak sempat membaca nama partainya namun benderanya berwarna putih bersih.

Bila demikian apa-apa yang penulis utarakan di atas sebenarnya adalah karena keprihatinan penulis pada kondisi sosial dan politik bahkan ekonomi bangsa ini yang tampaknya sedang “niedergang” kearah chaos.

Semua itu terjadi karena figur-figur, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh parpol juga keagamaan telah kehilangan pijakan ideologi pemersatu bangsa yakni Pancasila 1 Juni 1945 juga Undang-Undang Dasar asli Revolusi 1945, akibat adanya reformasi yang kebablasan tahun 1998 yang lalu. Untuk itu seluruh kekuatan-kekuatan Patriotik dimanapun berada harus berani berjuang bahu membahu untuk mengembalikan berlakunya kembali Pancasila 1 Juni 1945 dan Undang-Undang asli Revolusi 1945 di Persada Nusantara ini!

Dalam hal ini kita dapat “meminjam” semboyan revolusi Perancis 1778 yaitu: Liberte, Egalite, fraternite di sekujur anak bangsa. Kebebasan, Persamaan, Persaudaraan dalam berdemokrasi!.

Jakarta, 19 Desember 2023

Guntur Soekarno

Ketua Dewan Idiologi DPP PA GMNI/Pemerhati Sosial

Lainnya,

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini