“Cak Imin Bisa Apa, Jika Airlangga Wapresnya Prabowo “
KoranGanjar.com, OPIni:
 Teman teman Relawan Jokowi Ahok & Ganjar dimana saja berada,
Merapatnya PKB – Cak Imin ke Prabowo yang ditandai dengan ‘salam komando’ Prabowo – Cak Imin tgl. 23 Februari 2023 lalu rupanya belum menjadikan jaminan Cak Imin sebagai Cawapresnya Prabowo. Apalagi kemarin (13/8) Airlangga – Ketum Golkar dan Zulhas – Ketum PAN pun melakukan hal yang sama.
Airlangga sebagai Ketum Golkar adalah parpol peringkat ke-3 dalam peraihan suara 2019 lalu, karena memiliki 85 kursi dan 17,2 juta suara. Sedangkan Cak Imin – PKB hanya punya modal 58 kursi dengan 13,5 juta suara. Apalagi Zulhas – PAN, hanya punya 44 kursi dengan 9,5 juta suara.
Cak Imin pastinya ‘deg-deg byar’, karena Prabowo bisa saja memilih Airlangga sebagai Cawapresnya dan Zulhas ikut dibelakang Airlangga mendukungnya. Ini yang mungkin tidak ‘dikalkulasi’ matang oleh Cak Imin, nanti akan ada waktu dimana Cak Imin ditawari 2 pilihan oleh Prabowo – Airlangga – Zulhas, “Mau ikut koalisi kami silahkan, tapi jangan bermimpi kamu (Cak Imin) jadi Wapres”
Atau , “Silahkan keluar dari koalisi kami, kalian, PKB,  bebas mau kemana”
‘wkwkwkw…
.
Jika ini terjadi Cak Imin akan mati kartu,
Mau merapat ke Ganjar malu,
Mau merapat ke Anies apalagi.
Jika ini memang terjadi
kami mengusulkan Cak Imin lebih baik merapat ke Ganjar
pastinya kursi Kemenaker &  Kemendes akan milik Cak Imin Cs lagi.
.
Saya tidak ingin menyebut jika ini adalah ‘karma kurang baik’ karena Cak Imin  bersiteru dengan alm.Gus Gur sejak tahun 2005 lalu. Bahkan berketerusan dengan putri alm.Gus Dur, Yenny Wahid hingga saat ini. Politik telah memisahkan mereka sejak thn.2005 , dan  akan terus seperti ini ?, harus ada yang besar hati dan ini dapat dimulai dari Cak Imin pasti akan mendapatkan ‘applaus’ dari puluhan juta Nahdliyin se-dunia, Itulah politik.
Masih ngotot ingin jadi Cawapresnya Prabowo?,  mana mungkin Golkar yang didukung PAN mau memberikan kursi Wapres Prabowo ke Cak Imin, kalkulator pun enggan berhitungnya. 
Yenny Wahid saat wawancara dengan kumparan, Jumat (11/6). Foto: Fitra Andrianto/kumparan
.
 Teman teman Relawan Jokowi Ahok & Ganjar dimana saja berada,
Kita memang bukan Nahdliyin resmi yang ber-KTA, namun alm. Gus Dur adalah bapak bangsa maka wajar jika kita pun ikut barisan PKB-nya Gus Dur, sangat sederhana saja.
Apalagi kasus ‘Kardus Durian’ tahun 2011 lalu,  Cak Imin  saat menjabat Menaker diduga terlibat  didalamnya , dimana  negara dirugikan sekitar Rp.7,3 milyar atas kasus ini dan setiap saat dapat kembali di-angkat oleh KPK, ‘Ngeri ngeri sedap.
Alm. Gus Dur telah mengajarkan kita agar ‘tidak takut’ kepada orde-baru dan turunannya, dan merupakan kewajiban kita agar kritis kepada orba dan turunannya bahkan untuk itu beliau sudah tiga kali coba dibunuh oleh Presiden Soeharto saat itu. “Oleh siapa? Tahu nggak oleh Pak Harto. Saya tahu, tapi harus ingat! Pak Harto begitu itu bukan karena alasan pribadi tapi alasan politis. Kenapa? Ya itu tadi saya ngelawan terus,” ujar Gus Dur.
 Teman teman Relawan Jokowi Ahok & Ganjar dimana saja berada,
Tidak saja soal itu, alm.Gus Dur demikian berharap Presiden SBY saat itu membubarkan FPI terutama setelah munculnya kasus kekerasan di Monumen Nasional (Monas) pada 1 Juni 2008. Beliau menganggap SBY memberikan ‘angin kepada FPI dan ormas radikal lainnya,“FPI sudah kerap melanggar UUD 1945. Karena itu, sudah waktunya FPI ditindak tegas. Pada saat menjadi presiden , saya lebih prioritas bagaimana biar negara ini tidak terurai. Saya sering keluar negeri itu biar teritorial kita terjamin. Saya tidak sempat ngurusin FPI,” ujar Gus Dur kepada rekan media.

Beliau  juga mengaku tak gentar jika mendapatkan ancaman dari pihak FPI. ”Wong baru diancam FPI aja kog. Saya ini sudah tiga kali mau dibunuh oleh Soeharto,” ucap beliau , FPI  bagi beliau telah banyak melanggar UUD 1945 dan melecehkan Pancasila dan para pendiri bangsa ini.  Karena itu, sudah waktunya FPI ditindak tegas.
Tidak ada yang meragukan kapasitas beliau sebagai salah satu pemimpin besar bangsa Indonesia. Jauh sebelum terpilih menjadi Presiden RI secara demokratis di MPRRI tahun 1999 lalu, beliau merupakan penggerak intelektual publik yang banyak menginspirasi anak-anak muda untuk kritis, progresif, dan berani menyuarakan pendapat di tengah kekangan rezim Orde Baru
Wakil Presiden Indonesia Megawati Sukarnoputri (kanan) berjabat tangan dengan Presiden Indonesia Abdurrahman Wahid sebelum rapat kabinet yang tidak biasa di Jakarta, (3/2/2001). Foto: Agus Lolong/AFP

Satu pekan sebelum dilantik sebagai Presiden beliau ditemui sedang menangis dihadapan seorang kyai besar NU, beliau berkata, “Kiai, apa saya kuat jadi Presiden?” , dan dijawab oleh kiai, “Tapi memang sampean yang bakal menjadi Presiden.” Terlihat di sini Gus Dur tidak menanyakan kemampuan dirinya, tetapi kekuatannya jika terpilih menjadi Presiden.

 Teman teman Relawan Jokowi Ahok & Ganjar dimana saja berada,

Setelah dilantik (20/10/1999) lalu, bersama Wapres Hj.Megawati Sukarnoputri , mereka berdua serius menjalankan amanah dari rakyat tersebut dengan pekerjaan rumah yang tidak mudah. Karena selain harus menghadapi ancaman disintegrasi bangsa, beliau dan Hj.Mega menghadapi tugas untuk menjalankan tuntutan reformasi dan pembangunan demokratisasi bangsa Indonesia, terutama di mata dunia internasional. Tugas-tugas tersebut mengharuskan Gus Dur berhadapan dengan anasir-anasir ABG (ABRI, Birokrasi, Golkar) yang masih kuat dan menjadi problem akut sebagai dampak dari 32 tahun rezim Orde Baru berkuasa. Lainnya, mereka berdua harus  membersihkan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang telah mengurat dan mengakar di era Soeharto yang kemudian mendapatkan perlawanan keras sebagaimana yang kemudian dirasakan Presiden Hj.Megawati dan Presiden Jokowi sampai saat ini.

Meskipun hanya memimpin Indonesia selama 20 bulan karena dilengserkan secara politis oleh lawan-lawan politiknya pada 23 Juli 2001, Gus Dur telah banyak meletakkan fondasi demokratisasi yang baik bagi masa depan kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk selain upaya keras memberantas pratik-praktik korupsi.

Yang terakhir,Prabowo Subianto yang saat itu menjabat selaku Danjen Kopassus, dalam buku ‘Gus Dur Presiden Republik Akhirat’, karya H. Muhammad Zaki thn.2010 lalu  dikatakan Prabowo sempat mengancam nyawa Gus Dur dengan menyiapkan 100 penembak jitu. “Sampaikan pada Gus Dur, kalau tetap berkoar-koar seperti itu, saya punya 100 sniper (penembak jitu) yang siap membuangkan Gus Dur,”demikian dituturkan mengutip pernyataan Prabowo yang tertuang dalam buku ini yang diterbitkan oleh Masmedia Buana Pustak, Sidoarjo.

Gus Dur pun menjawab santai melalui media, “Kalau benar Prabowo bilang begitu, tolong tanyakan padanya, Pak Prabowo agamanya apa? Kalau dia menjawab Islam, tolong tanyakan nyawa itu milik siapa?” 

 

 Teman teman Relawan Jokowi Ahok & Ganjar dimana saja berada,

Ancaman lain juga pernah diterimanya via surat elektronik pada 5 Juni 2008. Dalam e-mail yang dikirim pelaku yang menggunakan akun Yahoo yang bodong itu melayangkan ancaman, “Katakan pada seluruh rakyat indonesia, KAMI akan membunuh Gus Dur dalam waktu dekat, ingat, KAMI AKAN MEMBUNUH GUSDUR DALAM WAKTU DEKAT!!!”.

Atas hal ini semua, jika saja saya adalah Cak Imin, saya sudahi ‘petualangan politik’ ini, saya temui ibu Shinta & Yenny Wahid, apapun saya memohon maaf atas khilaf selama ini kemudian bergabung dengan Ganjar Pranowo tanpa harus berhitung ‘akan dapat apa’, jika ini dilakukan pasti akan lebih mempunyai ‘nilai  dan warisan mulia’ dibanding harus mengemis – ngemis ke Prabowo sebagai cawapresnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini